Para
ahli sejarah, utamanya Tulungagung, bahkan belum banyak mengerti jika
pada sekitar tahun 1031M, ada seorang penguasa perempuan Brang Kidul
Tulungagung yang berhasil menghancurkan kekuasaan Erlangga! Dialah
satu-satunya tokoh perempuan yang sanggup melakukan kehebatan itu. Pada
suatu masa, Tulungagung memang pernah menggetarkan tanah Jawa.
Dan
sedikit yang mengerti bahwa selain Sang Rajapatni Gayatri, Tulungagung
ternyata menjadi tempat pendarmaan beberapa tokoh besar kerajaan
Singasari dan Majapahit lainnya, seperti Tunggul Ametung, Mahisa Wonga
Teleng, Mapanji Tohjaya, Raden Wijaya, Baginda Kertawardhana, dan Sri
Wikramawardhana.
Bahwa memang Tulungagung pernah selama
beberapa kurun, berperan besar dalam perjalanan sejarah nusantara masa
silam. Berdasarkan pembacaan sumber sejarah yang ada, ternyata ada fakta
hebat bahwa Tulungagung termasuk satu-satunya wilayah di luar pusat
keraton, yang memiliki daerah perdikan terbanyak. Itu karena Tulungagung
banyak memberikan pertolongan agung pada para raja.
Kenyataan sejarah ini belum banyak
dikuak. Selama ini, sangat sedikit sumber referensi sejarah atau buku
kajian sejarah terkait Tulungagung yang cukup secara memuaskan, menjawab
segala keheranan kita. Sementara sesungguhnya Tulungagung berbakat
menjadi pusat budaya, utamanya di Jawatimur. Bukankah dengan
ditemukannya fosil Wajakensis, Tulungagung boleh dibilang pernah menjadi
pusat kebudayaan kuna Nusantara?
Pada masalalu, yang dinamakan wilayah
brangkidul Tulungagung adalah daerah di selatan sungai Brantas, mulai
alas Lodaya di timur, berbatasan langsung dengan Turen atau
Turyantapada, memanjang ke barat sampai gunung Wilis dan pegunungan
Trenggalek, termasuk Kampak dan Karangan - sampai tahun 1950M, Karangan
dan Kampak masuk Tulungagung. Karena itu, ketika kaji sejarah
Tulungagung, bakal bersinggungan dengan sejarah Blitar dan Trenggalek.
Sejarah Tulungagung juga bersinggungan dengan sejarah Kediri.
Tulungagung sejak dulu memang memiliki ikatan lahir batin sangat erat
dengan tiga tetangganya itu.






